berawal saat kta bertemu,,
berawal dari sebuah senyuman persahabatan..
1 Agustus 2011_ kita janjian ketmuan di Pangsar,, Awal kita mulai dekat…
Tapi setiap hari aku salu berpikir bersalah dengan hubungan kalian.. Q ingiin pergii dan menjauhi kamuu.. karna q dah pernah patah hati karna cintaku di bawa lari orang,,, huuhuhuu T_T
6 Agustus 2011 ibu kamu masuk rumah sakit,, dan sore itu q jenguk ibu kamu, Malam hari seperti yang kita rencanakan kita pergi berdua nonton konser St12,, berawal kita seperti maling yang kejar”an sama teman kamu karna Q jalan ma co orang,,,  sediihh amatt sangattt,,,
 senyuum ini tak kan pernah hilang karna itu pertama kali kau peluk aku,,, dan menggandeng tangan (g ada status d kita)..
Uuppss temen mu pergokiin aku yang lagi ma kamu,,,  suummpahh gila malemm inii,,
pagii itu tanpa sengaja kita bertemu hemmm  indahh bangget harii inii,, g pengen jauh jauh dari kamu,,
hariii harrii ku penuhh kata GALAU DAN BERSALAH..
8 Agustus aku pulang kerja lebih awal karna itu tia maen k temapt ku,, tak berselang waktu kamu pun kerumahku ,, heemm  bahagiia banget kamu bisa bergabung dengan ku siang itu.. waktu pamitan pulang,, UPPPsss ^_^ kamuu cium pipi q.. MAaf jika q membuatmu seperti ini Tapi q butuh kejelasan hubungan kita,,
Q g mau seperti di Madu,, Maaf karna tlah membuatmu semakin tertekan ,, buat dia akuu minta maaf karn atlah buat kamu seperti ini,, tapi ini takdir kita q tak pernah punya niat buat ambil dia darimu,, :’(
8 Agustus 2011 = malam itu ku putuskan untuk menemui mu di RSU ambarawa,, semua kata ingin ku ungkat namun mulut ini terkunci saat melihatmu,,
I LOVE U kau ucapkan kata itu..  mengembang namum q sadar d sisi lain ada hati yang terluka…
Cinta itu kini semakin bersemii,, kita belajar dari keEgoisan, KEkanak-kanakan, Perhatian,Kasih sayang,Kerinduuan,, Semua rasa itu menberkan warna pada diri kia..
hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk kuliah di jogja kau begitu mendukung namun saat aku akan berangkat kau begitu kecewa dengan keputusan itu kau takut akan kehilangan diriku,,
saat kau membuat ku terseyum saat detik detik keberangkatan ku.. Ku taau q juga sulit untuk meninggalkanmu,, aku juga tak sanggup jauh darimu,, air mata ini jatuh saat melihatmu terseyum dalam tangismu,,

 OKTOBER
* Menarik dan pandai membujuk
* Memiliki kecantikan dalam dan luar
* Tidak suka berbohong atau berpura-pura
* Simpatik
* Suka memperlakukan teman seperti orang penting
* Selalu berusaha mencari teman
* Gampang terluka dan gampang pula ‘sembuh’
* Temperamen buruk
* Egois
* Suka bertualang, seni, dan karya sastra
* Tutur bahasa halus, suka mencintai dan
menyayangi
* Romantis
* Gampang tersinggung dan mudah cemburu
* Sangat perhatian
Sekilas ku gambarkan dirimu,,

 MEI
* Keras kepala dan keras hati
* Berkemauan keras dan memiliki motivasi
tinggi.
* Memiliki pemikiran tajam
* Mudah marah
* Mudah menarik perhatian orang lain dan
menyukai perhatian
* Memiliki perasaan yang dalam
* Cantik fisik dan mental
* Tegas
* Kemampuan debat yang baik
* Kemampuan fisik yang baik
* Pernapasan lemah
* Mencintai literatur dan seni
* Mencintai petualangan
* Tidak suka diam dirumah
 Cinta ini sederhana akumencintaimu seperti matahari yang menyinari sang bumi,,
q membutuhkan sinarmu untuk ku bernafas,,
 Senyumu bagaikan embun pagi menghiasi kuntung bunga ini..
kau lah nafas q,, hatiku berhenti di hatimu,, terikat dalam satu jiwa ,,
 Q tak tau berapa x kita marahan kita bilang kata benci satu sama lain saat hati ini kecewa,, tak terhitung kata Putus terucap dari bibir mu tapi hati ini selalu sabar menghadapi keEgoisanmu, mengharapmu menjadi semakin dewasa,


















Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Jika Anda memil…

Jika Anda memilih untuk membeli atau memesan kue kering, sebaiknya perhatikan kemasan stoples yang dipergunakan.
- Biasanya dijual dengan dalam stoples plastik berbentuk bundar, oval, atau segi delapan. Stoples jenis ini tidak kedap udara karena harus dilapisi lagi dengan selotip.
- Jika Anda membeli kue kering dalam kemasan jenis ini sebaiknya segera pindahkan ke dalam stoples kedap udara agar kue bisa tahan lebih lama atau tidak mudah melempem saat dibuka tutup.
- Saat membeli kue, perhatikan tutup stoples, pilih yang benar-benar rapat tetapi tetap tidak sulit untuk dibuka dan ditutup.
- Pastikan stoples yang Anda gunakan untuk menyimpan kue benar-benar kedap udara

Sampingan | Posted on by | Tinggalkan komentar

Tugas mata kuli…

Tugas mata kuliah kimia fisik

Semester genap

 

 

 

Disusun oleh :

  1. 1.    Nofita Riska Saputri           (11031006)
  2. 2.    Arum Ardhani                     (11031015)
  3. 3.    Bernada Estyaningtyas     (11031033)

 

 

program studi teknologi hasil pertanian

fakultas agroindusti

universitas mercubuana yogyakarta

2011/2012

bab i

pendahuluan

Semua zat yang ada disekitar kita, yang setiap saat kita lihat terdiri atas materi. Materi didefinisikan sebagai sesuatu yang memiliki massa dan volum. Papan tulis yang ada di kelas, kursi yang kita duduki, udara yang kita hirup, makanan yang kita makan, sendok dan garpu dan lainnya terdiri atas materi.  merupakan contoh makanan dan bahan yang kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Secara umum, campuran dapat diklasifikasikan menjadi larutan, koloid dan suspensi (campuran). Hal ini didasarkan pada ukuran partikel-partikel zat terlarut (fase terdispersi) dalam pelarut (medium pendispersi)nya. Adakalanya suatu campuran mengandung zat terlarut dan zat koloid atau zat terlarut dan suspensi sekaligus. Air sungai, sebagai contoh, mengandung pasir dan berbagai partikel kasar yang lain. Jika air sungai disaring, biasanya masih mengandung pertikel koloid selain zat-zat terlarut. Demikian juga halnya dengan udara, udara yang bersih merupakan larutan dari berbagai jenis gas. Akan tetapi, pada umumnya udara mengandung partikel koloid berupa debu, asap, atau kabut.

            Tabel 1. Perbedaan Larutan, Koloid dan Suspensi

Perbandingan campuran

Aspek

Larutan

Koloid

Suspensi

Ukuran Partikel

< 10-7 cm

10-7< s.d <10-5 cm

10-5 cm <

Jumlah Fasa

1

2

2

Distribusi Partikel

Homogen

heterogen

Heterogen

Penyaringan

Tidak dapat disaring

Tidak dapat disaring kecuali dengan penyaring ultra

Dapat disaring

Kestabilan

Stabil, tidak memisah

Stabil, tidak memisah

Tidak stabil, memisah

Contoh

Larutan gula, larutan garam, udara bersih

Tepung kanji dalam air, mayonase, debu di udara

Campuran pasir dan air, sel darah merah dan plasma putih dalam plasma darah.

 

 

bab ii

teori

 

Pada larutan, partikel-partikel tersebar secara merata, tetapi tidaklah terjadi pada campuran. Dalam campuran molekul-molekul tidak terpisah dan menyisakan partikel padat. Dari bagian ini terlihat ukurannya, bahwa larutan terbentuk dari partikel-partikel yang sangat kecil dan campuran terbentuk dari partikel-partikel yang cukup besar. Koloid adalah kondisi pertengahan, antara campuran dan larutan. Pada koloid terjadi dispersi (penyebaran) partikel-partikel kecil tetapi bukan berukuran molekul. Hal yang membedakan koloid dari larutan dan campuran adalah pada ukurannya.Koloid adalah tersebarnya partikel-partikel kecil dengan ukuran 10-7 sampai 10-5 cm. Jika partikel yang lebih besar dari 10-5 cm maka disebut dengan campuran dan jika ukuran partikel lebih kecil dari  10-7 cm maka disebut dengan larutan.

Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 nm. Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu partikel. Contoh lain dari sistem koloid adalah adalah tinta, yang terdiri dari serbuk-serbuk warna (padat) dengan cairan (air). Selain tinta, masih terdapat banyak sistem koloid yang lain, seperti mayones, hairspray, jelly, dll.  

Koloid terdiri atas fase terdispersi dan medium pendispersi. Medium pendispersi adalah medium (materi) dimana partikel-partikel koloid terdistribusi. Sol gas (aerosol padat) merupakan koloid dimana zat padat terdistribusikan dalam medium gas. Zat padat inilah yang selanjutnya disebut fase terdispersi.

Fase terdispersi maupun medium pendispersi dapat berupa padat, cair atau gas. Berdasarkan fase terdispersinya, koloid dapat diklasifikasikan menjadi sol, emulsi dan buih. Selanjutnya sol, emulsi dan buih dikelompokkan lagi berdasarkan medium pendispersinya. Baik pendekatan fase terdispersi maupun medium pendispersinya dahulu tidak cukup bermasalah, hanya lebih memudahkan dalam mengelompokkan sifat-sifat tiap kelompok.

 

 

Tabel 2. Klasifikasi dan Contoh Koloid

 

MEDIUM PENDISPERSI

Padat

Cair

Gas

FASE

TERDISPERSI

Padat

Sol Padat

Contoh: paduan logam, gelas berwarna, intan hitam

Sol Cair

Contoh: cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat

Sol Gas (Aerosol padat)

Contoh: debu di udara, asap pembakaran

Cair

Emulsi Padat (Gel)

Contoh: jelly, keju, mentega, nasi

Emulsi Cair

Contoh: susu, mayones, krim tangan

Emulsi Gas (Aerosol Cair)

Contoh: awan, kabut, semprotan (seperti hairspray, obat nyamuk semprot)

Gas

Buih Padat

Contoh: batu apung, marsmallow, karet busa, stereoform

Buih Cair (buih)

Contoh: putih telur dikocok, busa sabun

 

 

 

 

 

 

 

bab iii

pembahasan

Koloid memiliki bentuk bermacam-macam, tergantung dari fase zat pendispersi dan zat terdispersinya. Beberapa jenis koloid:

  • Aerosol yang memiliki zat pendispersi berupa gas. Aerosol yang memiliki zat terdispersi cair disebut aerosol cair (contoh: kabut dan awan) sedangkan yang memiliki zat terdispersi padat disebut aerosol padat (contoh: asap dan debu dalam udara).
  • Sol Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair. (Contoh: Air sungai, sol sabun, sol detergen dan tinta).
  • Emulsi Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain, namun kedua zat cair itu tidak saling melarutkan. (Contoh: santan, susu, mayonaise, dan minyak ikan).
  • Buih Sistem Koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair. (Contoh: pada pengolahan bijih logam, alat pemadam kebakaran, kosmetik dan lainnya).
  • Gel sistem koloid kaku atau setengah padat dan setengah cair. (Contoh: agar-agar, Lem).

Sifat-sifat Koloid

  • Efek Tyndall

Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar. Efek tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut efek tyndall.

Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid, cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.

 

  • Gerak Brown

Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan). Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas( dinamakan gerak brown), sedangkan pada zat padat hanya beroszillasi di tempat ( tidak termasuk gerak brown ). Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.

Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat (suspensi). Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka gerak Brown semakin lambat.

  • Adsorpsi

Adsorpsi ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel. (Catatan : Adsorpsi harus dibedakan dengan absorpsi yang artinya penyerapan yang terjadi di dalam suatu partikel). Contoh : (i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+. (ii) Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2.

 

 

  • Koagulasi koloid

Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.

Contoh: kotoran pada air yang digumpalkan oleh tawas sehingga air menjadi jernih.

Faktor-faktor yang menyebabkan koagulasi:

  •  Perubahan suhu.
  •  Pengadukan.
  •  Penambahan ion dengan muatan besar (contoh: tawas).
  • Pencampuran koloid positif dan koloid negatif.

Koloid akan mengalami koagulasi dengan cara:

1. Mekanik

Cara mekanik dilakukan dengan pemanasan, pendinginan atau pengadukan cepat.

2. Kimia

Dengan penambahan elektrolit (asam, basa, atau garam).

Contoh: susu + sirup masam —> menggumpal

lumpur + tawas —> menggumpal

Dengan mencampurkan 2 macam koloid dengan muatan yang berlawanan.

Contoh: Fe(OH)3 yang bermuatan positif akan menggumpal jika dicampur As2S3 yang bermuatan negatif.

 

 

  • Koloid pelindung

Koloid pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi koloid lain dari proses koagulasi.Berdasarkan perbedaan daya adsorpsi dari fase terdispersi terhadap medium pendispersinya yang berupa zat cair, koloid dapat dibedakan menjadi dua jenis. Sistem koloid di mana partikel terdispersinya mempunyai daya adsorpsi yang relatif besar disebut koloid liofil. Sedangkan sistem koloid dimana partikel terdispersinya mempunyai daya adsorpsi yang relatif kecil disebut koloid liofob.

Koloid liofil bersifat stabil, sedangkan koloid liofob kurang stabil. Koloid liofil bersifat lebih stabil, sedangkan koloid liofob bersifat kurang stabil. Koloid liofil yang berfungsi sebagai koloid pelindung.

  • Koloid liofil dan koloid liofob

Koloid Liofil

Koloid Liofil adalah koloid yang mengadsorbsi cairan, sehingga terbentuk selubung di sekeliling koloid atau Koloid liofil (suka cairan) adalah koloid dimana terdapat gaya tarik menarik yang cukup besar antara fase terdispersi dan medium pendispersinya. Contoh: agar-agar, sol kanji, agar-agar, lem, cat, dispersi kanji, sabun, deterjen, dan protein dalam air.

Koloid Liofob

Koloid Liofob adalah koloid yang tidak mengadsorbsi cairan atau Koloid liofob (tidak suka cairan)  adalah koloid di mana terdapat gaya tarik menarik yang lemah  atau bahkan tidak ada gaya tarik menarik antara fase terdsipersi dan medium pendispersinya.Agar muatan koloid stabil, cairan pendispersi harus bebas dari elektrolit dengan cara dialisis, yakni pemurnian medium pendispersi dari elektrolit.contohnya sol belerang, sol emas atau dengan kata lain dispersi emas, Fe (OH)3, dan belerang dalam air.

  • Dialisis

Dialisis ialah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara ini disebut proses dialisis. Yaitu dengan mengalirkan cairan yang tercampur dengan koloid melalui membran semi permeable yang berfungsi sebagai penyaring. Membran semi permeable ini dapat dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati koloid, sehingga koloid dan cairan akan berpisah.

 

  • Elektroforesis

Elektroferesis adalah peristiwa pergerakan partikel koloid yang bermuatan ke salah satu elektroda, ataupun peristiwa bergeraknya partikel koloid dalam medan listrik. Muatan Koloid ditentukan oleh muatan ion yang terserap permukaan koloid. Elektroforesis adalah gerakan partikel koloid karena pengaruh medan listrik. Karena partikel koloid mempunyai muatan maka dapat bergerak dalam medan listrik. Jika ke dalam koloid dimasukkan arus searah melalui elektroda, maka koloid bermuatan positif akan bergerak menuju elektroda negatif dan sesampai di elektroda negatif akan terjadi penetralan muatan dan koloid akan menggumpal (koagulasi).

 

Contoh:

Cerobong pabrik yang dipasangi lempeng logam yang bermuatan listrik dengan tujuan untuk menggumpalkan debunya.

Pemanfaatan muatan koloid sebagai penyaring debu pabrik pada cerobong asap menggunakan pesawat cottrel.

 

Elektroforesis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan suatu sistem koloid. Jika koloid bergerak  menuju elektroda positif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan negatif. Begitu juga sebaliknya, jika koloid bergerak menuju elektroda negatif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan positif.

 

APLIKASI KOLOID

 

  1. A.  Industri Makanan

Pemutihan gula merupakan aplikasi dari sistem koloid yaitu penggunaan sifat adsorpsi. Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan dengan melarutkan gula ke dalam air. Larutan ini kemudian dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel koloid akan mengadsorpsi zat warna zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna putih.

 

 

  1. B.  Industri Kosmetika

Deodorant mengandung aluminium klorida untuk mengkoagulasikan (mengendapkan) protein dalam keringat. Endapan protein ini dapat menghalangi kerja kelenjar keringat sehingga keringat dan protein yang dihasilkan berkurang.

 

  1. C.  Industri Rumah Tangga

Bahan Pencuci

Sabun sebagai pembersih karena dapat mengemulsi minyak dalam air. Sabun dalam air tenon menjadi Na dan ion asam lemak. Kepala asam lemak yang bermuatan negatif larut dalam air, sedangkan ekornya larut dalam minyak. Hal ini menyebabkan tetesan minyak larut dalam air.

  1. D.   Industri
  2. Kromatografi

Kromatografi adalah metode pemisahan campuran dengan menggunakan bahan pengadsorpsi, misalnya kertas kromatografi, pati dan aluminium oksida untuk kromatografi kolom. Zat-zat organik yang dapat dipisahkan dengan menggunakan metode kromatografi di antaranya adalah asam amino, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan hormon.

  1. Lateks

Lateks adalah koloid karet dalam air, berupa sol bermuatan negatif. Bila ditambah ion positif, lateks menggumpal dan dapat dibentuk sesuai cetakan.

 

  1. E.  Bidang Kesehatan
  2. Penggumpalan Darah

Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.

  1. Karbon Aktif

Karbon aktif merupakan aplikasi koloid yaitu penggunaan sifat adsorpsi. Karbon aktif digunakan untuk menyerap zat warna, bau, gas karbon dioksida (CO2), gas karbon monoksida (CO), H2O dan racun. Karbon aktif ini dibuat dengan memanaskan arang sehingga terbentuk arang yang sangat berpori. Karbon aktif digunakan misalnya untuk masker gas, proses penjernihan air, filter rokok dan norit sebagai obat penetral racun.

 

  1. Cuci Darah dengan Dialisis

Darah merupakan suatu sistem koloid. Darah yang mengandung sisa metabolisme seperti kreatinin, asam ureat, vitamin berlebih, obat-obatan dan hormon kemudian disaring oleh ginjal. Pada orang yang menderita kerusakan ginjal atau gagal ginjal, sisa-sisa metabolisme ini tidak dapat disaring oleh ginjal sehingga dapat meracuni tubuh. Oleh karena itu, pasien gagal ginjal dicuci darahnya dengan menggunakan alat dialisis yang memiliki membran semipermeabel. Membran semipermeabel ini memisahkan darah kotor dengan larutan dialisat yang konsentrasinya lebih rendah dibandingkan dengan darah. Sehingga sisa-sisa metabolisme dapat melewati pori-pori membran, sedangkan sel-sel darah dan zat yang masih berguna dan elektrolit yang partikelnya lebih besar tidak dapat melewati membran dan dimasukkan kembali ke dalam tubuh pasien.

 

  1. F.  Industri Tekstil

Pencelupan tekstil merupakan aplikasi sistem koloid yaitu penggunaan sifat adsorpsi. Pada pencelupan tekstil ini digunakan koloid yang dapat mempercepat pemberian warna. Koloid yang digunakan adalah dengan mencampurkan Al2(SO4) dengan Na2CO3 sehingga membentuk koloid Al(OH)3. Gas CO2 yang berasal dari Na2CO3 membentuk gelembung yang mengelilingi Al(OH)3 sehingga permukaannya menjadi berpori, akibatnya dapat menyerap zat warna.

 

G. Bidang Lingkungan

  1. Penjernihan Air

Penjernihan air merupakan aplikasi koloid yaitu penggunaan sifat adsorpsi. Pada penjernihan air, digunakan tawas yang memiliki rumus kimia KAl(SO4)2 yang dalam air terhidrasi menjadi koloid Al(OH). Koloid Al(OH)3 ini mampu menyerap zat warna dan pestisida.

  1. Pemurnian Air Laut

Pemurnian air laut merupakan aplikasi sistem koloid yaitu penggunaan sifat dialisis. Pemurnian air laut dengan menggunakan membran semipermeabel ini menggunakan metode osmosis terbalik. (reserve osmosis). Osmosis adalah pergerakan molekul air dari larutan dengan konsentrasi rendah ke larutan yang konsentrasinya lebih tinggi. Dengan memberikan tekanan yang lebih tinggi pada larutan yang lebih pekat dibandingkan tekanan osmosisnya, maka gerakan molekul air akan terbalik.

  1. Pengelolaan Lumpur Aktif

Pengelolaan lumpur aktif merupakan aplikasi sistem koloid yaitu penggunaan sifat koagulasi. Pengelolaan air limbah dengan metode lumpur aktif ini menggunakan koagulan PAX (polialuminium klorida) Al13O4(OH)24(H2O)12 yang menghasilkan Al(OH)3.

  1. Pembentukan Delta di Muara Sungai

Pembentukan delta di muara sungai merupakan aplikasi sistem koloid yaitu penggunaan sifat koagulasi. Air sungai mengandung partikel-partikel koloid pasir dan tanah liat yang bermuatan negatif. Sedangkan air laut mengandung ion-ion Na+, Mg+2, dan Ca+2 yang bermuatan positif. Ketika air sungai bertemu di laut, maka ion-ion positif dari air laut akan menetralkan muatan pasir dan tanah liat. Sehingga, terjadi koagulasi yang akan membentuk suatu delta.

  1. Pengambilan Endapan Pengotor

Gas atau udara yang dialirkan ke dalam suatu proses industri seringkali mengandung zat-zat pengotor berupa partikel-partikel koloid. Untuk memisahkan pengotor ini, digunakan alat pengendap elektrostatik yang pelat logamnya yang bermuatan akan digunakan untuk menarik partikel-partikel koloid

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah).

Adapun sifat- Sifat koloid meliput:i

 

  • efek tyndall
  • gerak brown
  • absorpsi
  • koagulasi koloid
  • koloid pelindung
  • dialisis
  • elektroforesis
  • liofil dan liofob

 

 

Adapun pengelompokan sstem koloid sebagai berikut :

  1. Di dalam larutan koloid, secara umum terdapat 2 zat, yaitu :
  • Zat Pendispersi     : zat pelarut di dalam koloid (jumlahnya lebih banyak
  • Zat Terdispersi      : zat yang terlarut di dalam koloid (jumlahnya lebih sedikit)

 

  1. Berdasarkan fase zat terdispersi, koloid terbagi atas 3 bagian besar, yaitu :
  • Sol             : Sol adalah koloid dengan zat terdispersinya berfase padat.
  • Emulsi       : Emulsi adalah koloid dengan zat terdispersinya berfase cair.
  • Buih          : Buih adalah koloid dengan zat terdispersinya berfase gas.

 

  1. Berdasarkan fase mediumnya, sol, emulsi, dan buih terbagi atas beberapa jenis, yaitu :
  • Sol

Koloid sol dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

Sol padat (padat-padat)

 

b.      Sol cair (padat-cair)

 

c.       Sol gas (padat-gas)

 

Sol padat adalah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase padat.

Contoh : logam paduan, kaca berwarna, intan hitam, dan baja.

 

 

Sol cair atau disebut sol saja adalah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase cair. Artinya, zat terdispersi berfase padat dan zat pendispersi (medium) berfase cair.

Contoh : cat, tinta, dan kanji.

 

Sol gas (aerosol padat) adalah koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase gas. Artinya, zat terdispersi berfase padat dan zat pendispersi (medium) berfase gas.

Contoh : asap dan debu.

 

 

  • Emulsi

Koloid emulsi dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

  • Emulsi padat (cair-padat)

Emulsi padat (gel) adalah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase padat. Artinya, zat terdispersi berfase cair dan zat pendispersi (medium) berfase padat.

Contoh : mentega, keju, jeli, dan mutiara.

 

  • Emulsi cair (cair-cair)

Emulsi cair (emulsi) adalah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase cair. Artinya, zat terdispersi berfase cair dan zat pendispersi (medium) berfase cair.

Contoh : susu, minyak ikan, dan santan kelapa.

 

  • Emulsi gas (cair-gas)

Emulsi gas (aerosol cair) adalah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase gas. Artinya, zat terdispersi berfase cair dan zat pendispersi (medium) berfase gas.

Contoh : insektisida (semprot), kabut, dan hair spray.

  • Buih

Koloid buih dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :

  • Buih padat (gas-padat)

Buih padat adalah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase padat. Artinya, zat terdispersi berfase gas dan zat pendispersi (medium) berfase padat.

Contoh : busa pada jok mobil dan batu apung.

  • Buih cair (gas-cair)

Buih cair (buih) adalah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase cair. Artinya, zat terdispersi berfase gas dan zat pendispersi (medium) berfase cair.

Contoh : buih sabun, buih soda, dan krim kocok.

Sampingan | Posted on by | Tinggalkan komentar

Tugas mata kuli…

Tugas mata kuliah kimia fisik

Semester genap

 

 

 

Disusun oleh :

  1. 1.    Nofita Riska Saputri           (11031006)
  2. 2.    Arum Ardhani                     (11031015)
  3. 3.    Bernada Estyaningtyas     (11031033)

 

 

program studi teknologi hasil pertanian

fakultas agroindusti

universitas mercubuana yogyakarta

2011/2012

bab i

pendahuluan

Semua zat yang ada disekitar kita, yang setiap saat kita lihat terdiri atas materi. Materi didefinisikan sebagai sesuatu yang memiliki massa dan volum. Papan tulis yang ada di kelas, kursi yang kita duduki, udara yang kita hirup, makanan yang kita makan, sendok dan garpu dan lainnya terdiri atas materi.  merupakan contoh makanan dan bahan yang kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Secara umum, campuran dapat diklasifikasikan menjadi larutan, koloid dan suspensi (campuran). Hal ini didasarkan pada ukuran partikel-partikel zat terlarut (fase terdispersi) dalam pelarut (medium pendispersi)nya. Adakalanya suatu campuran mengandung zat terlarut dan zat koloid atau zat terlarut dan suspensi sekaligus. Air sungai, sebagai contoh, mengandung pasir dan berbagai partikel kasar yang lain. Jika air sungai disaring, biasanya masih mengandung pertikel koloid selain zat-zat terlarut. Demikian juga halnya dengan udara, udara yang bersih merupakan larutan dari berbagai jenis gas. Akan tetapi, pada umumnya udara mengandung partikel koloid berupa debu, asap, atau kabut.

            Tabel 1. Perbedaan Larutan, Koloid dan Suspensi

Perbandingan campuran

Aspek

Larutan

Koloid

Suspensi

Ukuran Partikel

< 10-7 cm

10-7< s.d <10-5 cm

10-5 cm <

Jumlah Fasa

1

2

2

Distribusi Partikel

Homogen

heterogen

Heterogen

Penyaringan

Tidak dapat disaring

Tidak dapat disaring kecuali dengan penyaring ultra

Dapat disaring

Kestabilan

Stabil, tidak memisah

Stabil, tidak memisah

Tidak stabil, memisah

Contoh

Larutan gula, larutan garam, udara bersih

Tepung kanji dalam air, mayonase, debu di udara

Campuran pasir dan air, sel darah merah dan plasma putih dalam plasma darah.

 

 

bab ii

teori

 

Pada larutan, partikel-partikel tersebar secara merata, tetapi tidaklah terjadi pada campuran. Dalam campuran molekul-molekul tidak terpisah dan menyisakan partikel padat. Dari bagian ini terlihat ukurannya, bahwa larutan terbentuk dari partikel-partikel yang sangat kecil dan campuran terbentuk dari partikel-partikel yang cukup besar. Koloid adalah kondisi pertengahan, antara campuran dan larutan. Pada koloid terjadi dispersi (penyebaran) partikel-partikel kecil tetapi bukan berukuran molekul. Hal yang membedakan koloid dari larutan dan campuran adalah pada ukurannya.Koloid adalah tersebarnya partikel-partikel kecil dengan ukuran 10-7 sampai 10-5 cm. Jika partikel yang lebih besar dari 10-5 cm maka disebut dengan campuran dan jika ukuran partikel lebih kecil dari  10-7 cm maka disebut dengan larutan.

Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 nm. Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu partikel. Contoh lain dari sistem koloid adalah adalah tinta, yang terdiri dari serbuk-serbuk warna (padat) dengan cairan (air). Selain tinta, masih terdapat banyak sistem koloid yang lain, seperti mayones, hairspray, jelly, dll.  

Koloid terdiri atas fase terdispersi dan medium pendispersi. Medium pendispersi adalah medium (materi) dimana partikel-partikel koloid terdistribusi. Sol gas (aerosol padat) merupakan koloid dimana zat padat terdistribusikan dalam medium gas. Zat padat inilah yang selanjutnya disebut fase terdispersi.

Fase terdispersi maupun medium pendispersi dapat berupa padat, cair atau gas. Berdasarkan fase terdispersinya, koloid dapat diklasifikasikan menjadi sol, emulsi dan buih. Selanjutnya sol, emulsi dan buih dikelompokkan lagi berdasarkan medium pendispersinya. Baik pendekatan fase terdispersi maupun medium pendispersinya dahulu tidak cukup bermasalah, hanya lebih memudahkan dalam mengelompokkan sifat-sifat tiap kelompok.

 

 

Tabel 2. Klasifikasi dan Contoh Koloid

 

MEDIUM PENDISPERSI

Padat

Cair

Gas

FASE

TERDISPERSI

Padat

Sol Padat

Contoh: paduan logam, gelas berwarna, intan hitam

Sol Cair

Contoh: cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat

Sol Gas (Aerosol padat)

Contoh: debu di udara, asap pembakaran

Cair

Emulsi Padat (Gel)

Contoh: jelly, keju, mentega, nasi

Emulsi Cair

Contoh: susu, mayones, krim tangan

Emulsi Gas (Aerosol Cair)

Contoh: awan, kabut, semprotan (seperti hairspray, obat nyamuk semprot)

Gas

Buih Padat

Contoh: batu apung, marsmallow, karet busa, stereoform

Buih Cair (buih)

Contoh: putih telur dikocok, busa sabun

 

 

 

 

 

 

 

bab iii

pembahasan

Koloid memiliki bentuk bermacam-macam, tergantung dari fase zat pendispersi dan zat terdispersinya. Beberapa jenis koloid:

  • Aerosol yang memiliki zat pendispersi berupa gas. Aerosol yang memiliki zat terdispersi cair disebut aerosol cair (contoh: kabut dan awan) sedangkan yang memiliki zat terdispersi padat disebut aerosol padat (contoh: asap dan debu dalam udara).
  • Sol Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair. (Contoh: Air sungai, sol sabun, sol detergen dan tinta).
  • Emulsi Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain, namun kedua zat cair itu tidak saling melarutkan. (Contoh: santan, susu, mayonaise, dan minyak ikan).
  • Buih Sistem Koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair. (Contoh: pada pengolahan bijih logam, alat pemadam kebakaran, kosmetik dan lainnya).
  • Gel sistem koloid kaku atau setengah padat dan setengah cair. (Contoh: agar-agar, Lem).

Sifat-sifat Koloid

  • Efek Tyndall

Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar. Efek tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut efek tyndall.

Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid, cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.

 

  • Gerak Brown

Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan). Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas( dinamakan gerak brown), sedangkan pada zat padat hanya beroszillasi di tempat ( tidak termasuk gerak brown ). Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.

Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat (suspensi). Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka gerak Brown semakin lambat.

  • Adsorpsi

Adsorpsi ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel. (Catatan : Adsorpsi harus dibedakan dengan absorpsi yang artinya penyerapan yang terjadi di dalam suatu partikel). Contoh : (i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+. (ii) Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2.

 

 

  • Koagulasi koloid

Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.

Contoh: kotoran pada air yang digumpalkan oleh tawas sehingga air menjadi jernih.

Faktor-faktor yang menyebabkan koagulasi:

  •  Perubahan suhu.
  •  Pengadukan.
  •  Penambahan ion dengan muatan besar (contoh: tawas).
  • Pencampuran koloid positif dan koloid negatif.

Koloid akan mengalami koagulasi dengan cara:

1. Mekanik

Cara mekanik dilakukan dengan pemanasan, pendinginan atau pengadukan cepat.

2. Kimia

Dengan penambahan elektrolit (asam, basa, atau garam).

Contoh: susu + sirup masam —> menggumpal

lumpur + tawas —> menggumpal

Dengan mencampurkan 2 macam koloid dengan muatan yang berlawanan.

Contoh: Fe(OH)3 yang bermuatan positif akan menggumpal jika dicampur As2S3 yang bermuatan negatif.

 

 

  • Koloid pelindung

Koloid pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi koloid lain dari proses koagulasi.Berdasarkan perbedaan daya adsorpsi dari fase terdispersi terhadap medium pendispersinya yang berupa zat cair, koloid dapat dibedakan menjadi dua jenis. Sistem koloid di mana partikel terdispersinya mempunyai daya adsorpsi yang relatif besar disebut koloid liofil. Sedangkan sistem koloid dimana partikel terdispersinya mempunyai daya adsorpsi yang relatif kecil disebut koloid liofob.

Koloid liofil bersifat stabil, sedangkan koloid liofob kurang stabil. Koloid liofil bersifat lebih stabil, sedangkan koloid liofob bersifat kurang stabil. Koloid liofil yang berfungsi sebagai koloid pelindung.

  • Koloid liofil dan koloid liofob

Koloid Liofil

Koloid Liofil adalah koloid yang mengadsorbsi cairan, sehingga terbentuk selubung di sekeliling koloid atau Koloid liofil (suka cairan) adalah koloid dimana terdapat gaya tarik menarik yang cukup besar antara fase terdispersi dan medium pendispersinya. Contoh: agar-agar, sol kanji, agar-agar, lem, cat, dispersi kanji, sabun, deterjen, dan protein dalam air.

Koloid Liofob

Koloid Liofob adalah koloid yang tidak mengadsorbsi cairan atau Koloid liofob (tidak suka cairan)  adalah koloid di mana terdapat gaya tarik menarik yang lemah  atau bahkan tidak ada gaya tarik menarik antara fase terdsipersi dan medium pendispersinya.Agar muatan koloid stabil, cairan pendispersi harus bebas dari elektrolit dengan cara dialisis, yakni pemurnian medium pendispersi dari elektrolit.contohnya sol belerang, sol emas atau dengan kata lain dispersi emas, Fe (OH)3, dan belerang dalam air.

  • Dialisis

Dialisis ialah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara ini disebut proses dialisis. Yaitu dengan mengalirkan cairan yang tercampur dengan koloid melalui membran semi permeable yang berfungsi sebagai penyaring. Membran semi permeable ini dapat dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati koloid, sehingga koloid dan cairan akan berpisah.

 

  • Elektroforesis

Elektroferesis adalah peristiwa pergerakan partikel koloid yang bermuatan ke salah satu elektroda, ataupun peristiwa bergeraknya partikel koloid dalam medan listrik. Muatan Koloid ditentukan oleh muatan ion yang terserap permukaan koloid. Elektroforesis adalah gerakan partikel koloid karena pengaruh medan listrik. Karena partikel koloid mempunyai muatan maka dapat bergerak dalam medan listrik. Jika ke dalam koloid dimasukkan arus searah melalui elektroda, maka koloid bermuatan positif akan bergerak menuju elektroda negatif dan sesampai di elektroda negatif akan terjadi penetralan muatan dan koloid akan menggumpal (koagulasi).

 

Contoh:

Cerobong pabrik yang dipasangi lempeng logam yang bermuatan listrik dengan tujuan untuk menggumpalkan debunya.

Pemanfaatan muatan koloid sebagai penyaring debu pabrik pada cerobong asap menggunakan pesawat cottrel.

 

Elektroforesis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan suatu sistem koloid. Jika koloid bergerak  menuju elektroda positif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan negatif. Begitu juga sebaliknya, jika koloid bergerak menuju elektroda negatif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan positif.

 

APLIKASI KOLOID

 

  1. A.  Industri Makanan

Pemutihan gula merupakan aplikasi dari sistem koloid yaitu penggunaan sifat adsorpsi. Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan dengan melarutkan gula ke dalam air. Larutan ini kemudian dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel koloid akan mengadsorpsi zat warna zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna putih.

 

 

  1. B.  Industri Kosmetika

Deodorant mengandung aluminium klorida untuk mengkoagulasikan (mengendapkan) protein dalam keringat. Endapan protein ini dapat menghalangi kerja kelenjar keringat sehingga keringat dan protein yang dihasilkan berkurang.

 

  1. C.  Industri Rumah Tangga

Bahan Pencuci

Sabun sebagai pembersih karena dapat mengemulsi minyak dalam air. Sabun dalam air tenon menjadi Na dan ion asam lemak. Kepala asam lemak yang bermuatan negatif larut dalam air, sedangkan ekornya larut dalam minyak. Hal ini menyebabkan tetesan minyak larut dalam air.

  1. D.   Industri
  2. Kromatografi

Kromatografi adalah metode pemisahan campuran dengan menggunakan bahan pengadsorpsi, misalnya kertas kromatografi, pati dan aluminium oksida untuk kromatografi kolom. Zat-zat organik yang dapat dipisahkan dengan menggunakan metode kromatografi di antaranya adalah asam amino, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan hormon.

  1. Lateks

Lateks adalah koloid karet dalam air, berupa sol bermuatan negatif. Bila ditambah ion positif, lateks menggumpal dan dapat dibentuk sesuai cetakan.

 

  1. E.  Bidang Kesehatan
  2. Penggumpalan Darah

Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.

  1. Karbon Aktif

Karbon aktif merupakan aplikasi koloid yaitu penggunaan sifat adsorpsi. Karbon aktif digunakan untuk menyerap zat warna, bau, gas karbon dioksida (CO2), gas karbon monoksida (CO), H2O dan racun. Karbon aktif ini dibuat dengan memanaskan arang sehingga terbentuk arang yang sangat berpori. Karbon aktif digunakan misalnya untuk masker gas, proses penjernihan air, filter rokok dan norit sebagai obat penetral racun.

 

  1. Cuci Darah dengan Dialisis

Darah merupakan suatu sistem koloid. Darah yang mengandung sisa metabolisme seperti kreatinin, asam ureat, vitamin berlebih, obat-obatan dan hormon kemudian disaring oleh ginjal. Pada orang yang menderita kerusakan ginjal atau gagal ginjal, sisa-sisa metabolisme ini tidak dapat disaring oleh ginjal sehingga dapat meracuni tubuh. Oleh karena itu, pasien gagal ginjal dicuci darahnya dengan menggunakan alat dialisis yang memiliki membran semipermeabel. Membran semipermeabel ini memisahkan darah kotor dengan larutan dialisat yang konsentrasinya lebih rendah dibandingkan dengan darah. Sehingga sisa-sisa metabolisme dapat melewati pori-pori membran, sedangkan sel-sel darah dan zat yang masih berguna dan elektrolit yang partikelnya lebih besar tidak dapat melewati membran dan dimasukkan kembali ke dalam tubuh pasien.

 

  1. F.  Industri Tekstil

Pencelupan tekstil merupakan aplikasi sistem koloid yaitu penggunaan sifat adsorpsi. Pada pencelupan tekstil ini digunakan koloid yang dapat mempercepat pemberian warna. Koloid yang digunakan adalah dengan mencampurkan Al2(SO4) dengan Na2CO3 sehingga membentuk koloid Al(OH)3. Gas CO2 yang berasal dari Na2CO3 membentuk gelembung yang mengelilingi Al(OH)3 sehingga permukaannya menjadi berpori, akibatnya dapat menyerap zat warna.

 

G. Bidang Lingkungan

  1. Penjernihan Air

Penjernihan air merupakan aplikasi koloid yaitu penggunaan sifat adsorpsi. Pada penjernihan air, digunakan tawas yang memiliki rumus kimia KAl(SO4)2 yang dalam air terhidrasi menjadi koloid Al(OH). Koloid Al(OH)3 ini mampu menyerap zat warna dan pestisida.

  1. Pemurnian Air Laut

Pemurnian air laut merupakan aplikasi sistem koloid yaitu penggunaan sifat dialisis. Pemurnian air laut dengan menggunakan membran semipermeabel ini menggunakan metode osmosis terbalik. (reserve osmosis). Osmosis adalah pergerakan molekul air dari larutan dengan konsentrasi rendah ke larutan yang konsentrasinya lebih tinggi. Dengan memberikan tekanan yang lebih tinggi pada larutan yang lebih pekat dibandingkan tekanan osmosisnya, maka gerakan molekul air akan terbalik.

  1. Pengelolaan Lumpur Aktif

Pengelolaan lumpur aktif merupakan aplikasi sistem koloid yaitu penggunaan sifat koagulasi. Pengelolaan air limbah dengan metode lumpur aktif ini menggunakan koagulan PAX (polialuminium klorida) Al13O4(OH)24(H2O)12 yang menghasilkan Al(OH)3.

  1. Pembentukan Delta di Muara Sungai

Pembentukan delta di muara sungai merupakan aplikasi sistem koloid yaitu penggunaan sifat koagulasi. Air sungai mengandung partikel-partikel koloid pasir dan tanah liat yang bermuatan negatif. Sedangkan air laut mengandung ion-ion Na+, Mg+2, dan Ca+2 yang bermuatan positif. Ketika air sungai bertemu di laut, maka ion-ion positif dari air laut akan menetralkan muatan pasir dan tanah liat. Sehingga, terjadi koagulasi yang akan membentuk suatu delta.

  1. Pengambilan Endapan Pengotor

Gas atau udara yang dialirkan ke dalam suatu proses industri seringkali mengandung zat-zat pengotor berupa partikel-partikel koloid. Untuk memisahkan pengotor ini, digunakan alat pengendap elektrostatik yang pelat logamnya yang bermuatan akan digunakan untuk menarik partikel-partikel koloid

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah).

Adapun sifat- Sifat koloid meliput:i

 

  • efek tyndall
  • gerak brown
  • absorpsi
  • koagulasi koloid
  • koloid pelindung
  • dialisis
  • elektroforesis
  • liofil dan liofob

 

 

Adapun pengelompokan sstem koloid sebagai berikut :

  1. Di dalam larutan koloid, secara umum terdapat 2 zat, yaitu :
  • Zat Pendispersi     : zat pelarut di dalam koloid (jumlahnya lebih banyak
  • Zat Terdispersi      : zat yang terlarut di dalam koloid (jumlahnya lebih sedikit)

 

  1. Berdasarkan fase zat terdispersi, koloid terbagi atas 3 bagian besar, yaitu :
  • Sol             : Sol adalah koloid dengan zat terdispersinya berfase padat.
  • Emulsi       : Emulsi adalah koloid dengan zat terdispersinya berfase cair.
  • Buih          : Buih adalah koloid dengan zat terdispersinya berfase gas.

 

  1. Berdasarkan fase mediumnya, sol, emulsi, dan buih terbagi atas beberapa jenis, yaitu :
  • Sol

Koloid sol dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

Sol padat (padat-padat)

 

b.      Sol cair (padat-cair)

 

c.       Sol gas (padat-gas)

 

Sol padat adalah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase padat.

Contoh : logam paduan, kaca berwarna, intan hitam, dan baja.

 

 

Sol cair atau disebut sol saja adalah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase cair. Artinya, zat terdispersi berfase padat dan zat pendispersi (medium) berfase cair.

Contoh : cat, tinta, dan kanji.

 

Sol gas (aerosol padat) adalah koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase gas. Artinya, zat terdispersi berfase padat dan zat pendispersi (medium) berfase gas.

Contoh : asap dan debu.

 

 

  • Emulsi

Koloid emulsi dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

  • Emulsi padat (cair-padat)

Emulsi padat (gel) adalah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase padat. Artinya, zat terdispersi berfase cair dan zat pendispersi (medium) berfase padat.

Contoh : mentega, keju, jeli, dan mutiara.

 

  • Emulsi cair (cair-cair)

Emulsi cair (emulsi) adalah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase cair. Artinya, zat terdispersi berfase cair dan zat pendispersi (medium) berfase cair.

Contoh : susu, minyak ikan, dan santan kelapa.

 

  • Emulsi gas (cair-gas)

Emulsi gas (aerosol cair) adalah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase gas. Artinya, zat terdispersi berfase cair dan zat pendispersi (medium) berfase gas.

Contoh : insektisida (semprot), kabut, dan hair spray.

  • Buih

Koloid buih dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :

  • Buih padat (gas-padat)

Buih padat adalah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase padat. Artinya, zat terdispersi berfase gas dan zat pendispersi (medium) berfase padat.

Contoh : busa pada jok mobil dan batu apung.

  • Buih cair (gas-cair)

Buih cair (buih) adalah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase cair. Artinya, zat terdispersi berfase gas dan zat pendispersi (medium) berfase cair.

Contoh : buih sabun, buih soda, dan krim kocok.

Sampingan | Posted on by | Tinggalkan komentar

sikapp para mah…

sikapp para mahasiswa,,

perlu d pertanyakan..
karna pada saat ini antara pegi ngampus dengan nongkrong g ada bedanya,,
numpang IP bagus pi g ada keahlian,

Sampingan | Posted on by | Tinggalkan komentar

IMG0576A

IMG0576A

Gambar | Posted on by | Tinggalkan komentar

cinta figa

mungkin q bisa untuk selalu bersabar menantimu pulang kerja,, taapi aku juga punya perasaan q jga ingin kau perhaikan, bukan setiap kali aku marah sama kamu baru kamu perhatiaan..
ku harapkan kau selalu menjaga hati q,, sat kau berda jauh di sana karna hanya segumpal kepercayaan ini yang akan selalu aku genggam,,

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar